Aarrgghh... Sebulan ini banyak sekali situs yang harus aku review. Si Bos baru juga tidak pernah puas dengan tulisan ku akhir2 ini. Apa dia yang laki-laki itu bisa menstruasi? Bos brengsek! Sambil berjalan keluar dari ruang bos, menapakkan fantofel diatas lantai kayu yang berderik, terpikirkan olehku untuk pindah kantor. Tapi sayang juga kalau langsung pindah setelah mengabdikan 8 jam tiap harinya 3 tahun ini.
Haaah.. Menyandarkan punggung di kursi kantor, melihat langit-langit dengan mata lesu, tipikal karyawan stress. Ah, tidak ada gunanya aku merenung seperti ini.. Lebih baik aku kerja. Kulihat daftar situs yang aku review, ternyata masih 25 lagi, ditambah 10 yang harus diperbaiki. Sekarang masih jam ½ 3. Kembali ku merenung. Tiba-tiba kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Wangi vanilla, tangan yang mungil, dia ya? Lina, perempuan yang bisa membuatku tersenyum.
“Ki, kena marah lagi ya? Hehe..”
“Ah.. Iya biasa lah, bos nyebelin!”
“Hush, nanti kedengeran yang lain!”
“Ah, yang lain juga mikir gitu kan?”
“Ya udah. Kamu santai aja. Biarin aja, kan yang penting kamu kerjanya baik-baik aja”
“Ya kamu enak, nggak pernah dimarahin”
“Hehe.. Iya donk!”
“Hahaha.. Kamu juga nyebelin, Lin. Udah-udah, kamu balik kerja dh, nanti kamu malah ikutan dimarahin”
“Ya pokoknya jangan bete ah.. Nanti pulang kantor kita makan ditempat orang tua aku.”
“Iya..iya.. Bawel!”
Aku dan Lina udah pacaran 1 tahun. Perempuan yang menarik, seksi, baik, pintar, bisa mengerti aku. Aku cinta dia, dia cinta aku. Itu udah cukup. Melihat wajahnya bisa membuat aku tersenyum lagi.
Namun ada yang mengganggu ku dari tadi. Seseorang di sudut ruangan memandangi ku dengan kening yang ditekuk. Amanda, akuntan di perusahaan ini. Aku tidak mengenalnya, yang aku tau dia teman kecilnya Lina, walaupun sekarang hubungan mereka tidak baik. Ah, siapa peduli?!
Pulang kantor aku dan Lina makan di tempat orang tuanya. Tampaknya arus membawa kami ke hubungan yang lebih serius. Walaupun belum resmi aku akan melamarnya, tapi sudah terpikirkan oleh ku. Aku rasa Lina juga sudah mengharapkannya.
Esok harinya aku datang ke kantor lebih awal, supaya ada waktu lebih untuk mereview. Lina belum datang. Tiba-tiba, orang yang tidak diduga datang menyapaku. Amanda. Dunia mau kiamat rupanya. Tanpa basa-basi dengan ekspresi yang sedingin nitrogen cair, dia langsung meminta waktu untuk bicara.
Pembicaraannya tidak menarik, dia hanya menanyakan hubunganku dengan Lina, dan dia sepertinya tidak menyetujui hubungan kami. Aku pun tidak peduli dengan perkataannya, sampai saat dia bilang..
“Rizki, kamu tau, Lina itu transeksual?”
“Maaf, ngomong apa tadi?”
“Saya tanya, apa kamu tau Lina itu transeksual?”
Dunia belum kiamat, tapi langit rasanya mau runtuh. Bagaimana ini? Apa aku harus melanjutkan hubunganku? Yang paling penting, apa aku bisa??
Esok harinya Amanda keluar dari kantor. Aaarrrgghh.. Cewek sialan! Tidak bertanggung jawab! Selesai ngomong langsung pergi! Kenapa kasih tau?!?!
Selama beberapa hari setelah mengetahui hal itu, aku berusaha membuat hubungan kami tetap “normal”. Apa benar Lina transeksual?? Wangi itu, tangan itu. Dada itu silikon?? Tapi yang paling penting apa aku akan melanjutkan hubunganku? Apa yang aku khawatirkan? Agama? Aku tidak beragama! Kehormatan orangtua? Sudah 2 tahun aku tidak pernah berhubungan dengan keluarga. Secara seksual, aku tertarik padanya. Walaupun kami belum pernah melakukan sex, tapi kami pernah petting, dia juga pernah memberikan ku seks oral, lagipula kalau fisiknya sudah sama dengan perempuan, ku tidak perlu mengeluh lagi. Anak? Aku tidak ingin punya anak. Lebih baik mengadopsi daripada menghasilkan keturunan. Tapi, apa keputusan ku? Ah, Tuhan, kamu tidak ada kan? Baiklah. Mungkin itu jawabannya..
Selesai ngantor, aku langsung mendatangi Lina.
“Lina, ngobrol bentar yuk..”
“Eh, kita kan malem ini mau makan ditempat orang tua aku lagi..”
“Nggak apa-apa, sebentar aja.. kita duduk disitu dulu yuk..”
“ok..”
Akhirnya kami duduk di bangku taman belakang gedung kantor.
“Lina, aku boleh nanya sesuatu nggak?”
“Aaaa… Tunggu!! Aku harus mempersiapkan hati aku dulu!” ucapnya sambil tersenyum dan menutup matanya
“Lin, maap aku nanya kayak gini.”
“Ya?”
“Apa bener kamu transeksual?”
“Eh?”
“Iya, kamu denger pertanyaannya.”
“Amanda ya?”
“…”
“3 tahun yang lalu. Di Thailand.”
“I see..”
“Tapi nggak masalah kan aku transeksual? Aku cinta kamu! Kamu cinta aku juga kan?!”
“…”
“Kenapa kamu diem aja?? Ngomong donk! Kamu cinta aku kan?!”
“…”
“Bilang donk klo kamu cinta aku! Bilang klo kamu mau ngelamar aku!”
“… Maap Lin,..” ucapku tanpa berani melihat wajahnya
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa… Aku cuma bisa berharap kamu dapetin laki-laki yang lebih baik dari aku.”
“Kenapa Ki? Kenapa?!”
“Aku nggak tau alesannya, Lin” Masih mengucap tanpa memandang wajahnya. Hanya melihat tetesan air yang jatuh ke lantai con-block yang sepertinya berasal dari matanya.
Akhirnya selama 10 menit kami diam berdiri. Dia menangis. Aku menunggu air mata itu kering.
“Lin, pulang yuk, aku anterin.”
Tapi Lina diam saja, tidak mau bergerak. Ketika kupegang tangannya, dia tarik kembali tangannya. Akhirnya aku meninggalkannya di taman itu. Meninggalkan wangi vanilla dibawah awan mendung. Mengharapkan maaf untuk dosa yang tidak termaafkan ini. Mengharapkan segala kebaikan untuk Lina.
Esok harinya, seperti yang kuduga, Lina tidak datang ke kantor.
Hari jumat, aku lembur. Pekerjaan numpuk, terlalu sering melamun memikirkan Lina. Lebih baik kerja, daripada pulang pun aku tidak bisa istirahat.
Jam ½ 3 pagi, semua pekerjaanku selesai. Masih tidak ingin pulang. Di luar hujan.
Tanpa alasan khusus, tiba2 aku terpikirkan untuk hujan-hujanan. Dingin. Tidak kuduga Jakarta bisa sedingin itu.
Lalu aku melihat dan berjalan ke arah tiang lampu jalanan. Aneh.. Cahaya lampu terlihat aneh saat hujan di malam yang sepi. Ah!.. Aku rasakan sesuatu di punggungku. Darah?
Kakiku lemas, aku menyandarkan diri ke tiang, tapi tetap jatuh. Banyak sekali darahnya.. Kaki dan tanganku terasa dingin. Namun darahku hangat. Rasanya seperti berendam di air panas. Sambil melihat tetesan air hujan jatuh ke genangan darahku yang hangat.
Ah.. wangi vanilla. Aku tersenyum.
Sunday, August 26, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)
